Articles

Geografi Kemacetan

In Uncategorized on 16 August 2008 by geografika

Rabu, 04 April 2007

Macet… macet… belakangan ini lagi naik daun, meskipun merupakan berita “basi” di Jakarta sampai anekdot sinis seperti “kalau ngak macet bukan Jakarta!!” atau “tinggal di Jakarta brarti tua dijalan”… Saya tidak akan menulis semua keluhan kemacetan karena listnya akan panjang sekali, tetapi mencoba melihat kontribusi aplikasi geografi sebagai basic pengetahuan saya.

Lalu lintas merupakan aliran kendaraan bermotor, atau tidak bermotor termasuk juga pejalan kaki. Traffic is the movement of motorized vehicles, unmotorized vehicles and pedestrians on roads (wikipedia). Aliran pastinya berada diatas permukaan bumi dan terkait dengan ruang, geografi pastinya sangat terkait dengan analisis pola-pola serta sebaran diatas permukaan bumi Pola aliran ini dalam lingkup analisis geografi bisa dipelajari, di analisis secara mendalam mulai dari penyebabnya, pola Geografi dalam Traffic Management berkembang dari aplikasi yang paling sederhana dengan melihat pola-pola, memetakan dan menganalisisnya menjadi sebuah kajian detail dengan menggunakan alat bantu Sistem Informasi Geografis dan alat navigasi seperti GIS. Prinsipnya tentu sama, tetapi dengan teknologi yang ada, pemantauan serta analisis bisa sangat cepat dan tentunya memberikan masukan.

Bagaimana geografi bisa berkontribusi dalam mengatasi kemacetan. Ada 3 model analisis berdasarkan waktu yang bisa dikembangkan, yaitu analisis masa sekarang dan analisis lalu dan masa depan. Analisis masa sekarang berkaitan dengan kegiatan mengurangi kemacetan. Yang mudah untuk dilakukan adalah dengan menggunakan pendekatan analisis jaringan trasnportasi, identifikasi node-node yang menjadi simpul kemacetan, analisis flow (aliran) berdasarkan titik awal dan tujuan.

The fundamental principle of intelligent transportation systems is to match the complexity of travel demands with advanced supply-side analysis, evaluation, management, and control strategies. A fundamental limitation is the lack of basic knowledge of travel demands at the network level. Modeling and sensor technology is primarily limited to aggregate parameters or micro-simulations based on aggregate distributions of behavior. Global Positioning Systems (GPS) are one of several available technologies which allow individual vehicle trajectories to be recorded and analyzed. A flexible GPS-based data collection unit has been designed which incorporates GPS, data logging capabilities, two-way wireless communications, and a user interface in an embedded system which eliminates (or minimizes) driver interaction”. ( GPS/GIS Technologies for Traffic Surveillance and Management: A Testbed Implementation Study).

Analisis masa lalu bisa menjadi suatu analisis yang bersifat time series, tentunya ini berkaitan dengan perencanaan kedepan dan tentu saja bisa dijadikan dasar pengambilan keputusan.

Sebuah Proses Pembelajaran

Masih banyak kota-kota lain di Indonesia yang belum semacet Jakarta. Jadi proses pembelajaran ggak akan ada hubungannya dengan kadar kepintaran tetapi pada niatan para pengambil keputusan dibidang perencanaan ruang dan perencanaan transportasi.

Mengapa proses pembelajaran penting sekali, karena apa yang terjadi di Jakarta bisa dicegah ditempat lain di Indonesia. Misalnya di kota yang baru berkembang, perencanaan transportasi mustinya dibuatkan regulasi yang didasarkan atas analisis spatial yang lengkap. Perencanaan jalan dan transportasi juga harus mempertimbangkan perkembangan suatu wilayah.

Misalnya ketika di Depok baru saja dibangun mall Depok Town Squeare dan Margo City berhadapan, teman saya yang bilang “disini 1 tahun kedepan akan jadi titik kemacetan baru di Margonda Raya” Wow…ramalan teman saya jadi kenyataan… Pertanyaannya siapa yang kasih ijin lokasi? Tapi pertanyaannya besarnya adalah siapa yang tidak belajar dari pengalaman sekian banyak lokasi di Jakarta?

Hal yang sama saya alami di Jayapura ketika pembangunan Pompa bensin baru di Dok 2, baru saja dilakukan. Saya bergumam… putaran ini akan jadi titik kemacetan ketika pompa bensin sudah didirikan. Sekarang ini memang sering kali macet dititik tersebut, karena pompa bensin berada dipertemuan putara kendaraan serta ruas jalan pertemuan RS Dok 2, Lumba2 dan Dok2 bawah/kantor gubernur… (sorry contohnya jauh banget)…

Sekarang ke ujung barat Indonesia, tepatnya Banda Aceh, manajemen transportasi mustinya sudah dilakukan sejak sekarang. Perkembangan yang terlihat adalah semakin besarnya jumlah kendaraan pribadi terutama sepeda motor. Sistem persimpangan yang banyak, bayangkan kalau ke Ulee Kareeng, ada simpang 7 yang satu waktu akan jadi bom waktu titik kemacetan ketika kegiatan manusia sudah semakin banyak. Pertanyaannya adalah siapa yang berpikir 5 atau 10 tahun kedepan, dalam merencanakan transportasi di Banda. Atau melalui Setui (Jl. Teuku Umar misalnya setiap sore akan macet di depan RS. Harapan Bunda. Aduh…… orang bodoh dari mana yang menempatkan RS di ruas jalan utama tanpa fasilitas parkir…

Dalam analisis transportasi tentunya tidak melulu berkaitan dengan jalan, mobil, atau lampu lalu lintas. Dalam pemikiran banyak perencana kota misalnya keterkaitan antara pengaturan pola-pola pemanfaatan ruang menjadi kata kunci bagi pengaturan pola transportasi yang ada. Pusat-pusat kegiatan akan menjadi faktor penarik adanya aliran lalu lintas ke dan dari lokasi pusat kegiatan. Karena itu pengaturan pola-pola pemanfaatan ruang melalui analisis penggunaan tanah yang tepat akan menjadi dasar bagi pola lalu lintas serta permasalahannya kedepan. Pengaturan dimana CBD, dimana pemukiman, serta penempatan fasilitas umum menjadi penting.

Analisis yang kedua berkaitan dengan proyeksi perkembangan wilayah. Jakarta misalnya sangat sulit untuk mengembangkan transportasi karena proyeksi kedepan berkaitan dengan peningkatan jumlah pengguna kendaraan tidak diperhitungkan. Bahwa alokasi ruang untuk sarana transportasi masal seperti busway, monorail, subway saat ini mustinya disiapkan 10 atau atau mungkin 25 tahun yang lalu. Bahwa perkembangan kota yang melebar ke wilayah hinterland-nya mustinya diantisipasi dari dulu, ketika pembangunan belum berkembang jauh.

Analisis time series sangat dibutuhkan dalam melihat pola-pola yang ada, meskipun secara kasat mata beberapa potensi kemacetan bisa didentifikasi seperti: – Penyebaran pusat-pusat kegiatan yang tidak memenuhi kaidah penataan ruang (…Atau juga penataan ruang )Jyang tidak menyentuh aspek transportasi??? – Tidak tersedianya transportasi massal yang memadai. (atau juga penyediaan transportasi masal ketika kondisi kemacetan sudah sangat tinggi… busway…)

Mustinya pada pada belajar Geografi, terutama para pengambil keputusan dibidang penataan ruang dan bidang tranportasi jangan tahunya Geografi hanya mempelajari nama-nama kota…. huih… cape deh…

Musnanda Satar Praktisi GIS dan Penataan Ruang

Sumber : http://www.geografiana.com

2 Responses to “Geografi Kemacetan”

  1. kami sekolah islam harapan ibu di jakarta selatan sedagn membutuhkan geografi (murni atau kependidikan. please send CV to email: jamaludin20473@yahoo.com

  2. sip.keren

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: