Articles

Sri Baduga Ramah bagi Difabel

In Uncategorized on 19 May 2010 by geografika

Galamedia 19 Mei 2010
DIPONEGORO,(GM)-
Museum Sri Baduga Bandung akan mencoba ramah terhadap kaum difabel dengan disediakannya aksesibilitas bagi kaum difabel. Hal itu diungkapkan Kepala Balai Pengelolaan Museum Sri Baduga Bandung, Pramaputra pada wartawan yang ditemui di sela-sela Peringatan Hari Museum Internasional di Museum Geologi Bandung, Selasa (18/5).

Disebutkan Prana, tidak hanya Museum Sri Baduga, tetapi seluruh museum yang ada di Kota Bandung akan lebih ramah bagi kaum difabel. Menurutnya, hal tersebut sudah menjadi suatu kebutuhan bagi para pengelola museum untuk membuat aksesibilitas bagi kaum difabel. “Kami sudah sepakat, bahwa museum harus lebih ramah lagi bagi kaum difabel. Apalagi, salah satu fungsi museum adalah sebagai tempat mencari ilmu,” ujarnya.

Prama menyebutkan, sebenarnya sejumlah museum termasuk Museum Sri Baduga telah menyiapkan aksesibilitas bagi kaum difabel, namun belum maksimal. Salah satu yang sudah dilakukan yakni menyiapkan alat infromasi dan layar sentuh yang bisa dimanfaatkan para penyandang cacat, baik tunarungu dan tunadaksa untuk memnggali informasi tentang koleksi di museum dan sebagainya. “Namun saya akui, informasi bagi tunanetra, yakni berupa tulisan berhuruf braille dalam sinopsis koleksi belum,” paparnya.

Disebutkan, informasi koleksi menggunakan huruf braille untuk tahun ini tidak bisa diajukan. Prama menyebutkan, kemungkinan baru tahun depan koleksi menggunakan huruf braille bisa dilakukan. “Untuk sementara, kita memanfaatkan yang ada bagi aksesiblitas buat kaum difabel,” ujarnya.

Prama pun menyebutkan, kurang ramahnya museum diakibatkan banyak faktor, bisa aksebilitasnya, para guidenya, maupun dari koleksinya. Selain itu, tambah dia, kalangan difabel jarang mengunjungi museum yang ada di Kota Bandung. “Padahal, belakangan ini seluruh museum di Kota Bandung sudah mencoba untuk lebih ramah kepada masyarakat, termasuk bagi kaum difabel,” tandasnya.

Sebelumnya Koordinator Forum Perjuangan Diable Jabar, Jumono Wiro Siswowiyono menyebutkan, sebagian besar museum yang ada di Kota Bandung maupun Jabar dinilai kurang ramah bagi kaum difabel, karena kurang menyediakan aksesibilitas bagi kaum difabel. Dikatakan Jumono, sebagian besar koleksi yang ada di museum di Bandung, kurang menyediakan alat informasi bagi kalangan tuna rungu dan sinopsis menggunakan huruf braile bagi kalangan tguna netra. (B.81)**

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: